Header Ads

Bela Muslim Uighur, PB HMI Geruduk Kedubes China di Jakarta

Masa HMI Menggeruduk Keduber China. (Foto : Kumparan)
Sejumlah masa yang tergabung dalam Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mendatangi Kedutaan Besar Cina di Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan pada Selasa (14/12) pukul 10.00 WIB.

Dalam keterangan persnya, PB HMI mengecam dan menuntut Pemerintah China untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan kepada kelompok muslim Uighur. PB HMI juga meminta Kedubes China untuk angkat kaki dari Indonesia karena dianggap telah melanggar HAM.

Baca juga : Mahasiswa dan Aparat Bentrok Saat Jokowi kunjungi Palopo

"PB HMI menuntut agar Pemerintah China menjamin dan melindungi hak muslim Uighur untuk bebas beribadah dan menjalankan syariat agama Islam yang merupakan bagian dari HAM" tulis PB HMI dalam keterangan pers, seperti dikutip AksiMahasiswa dari Kumparan, Jumat (21/12).

"Di Indonesia tidak ada tempat untuk negara penindas Muslim dan Pelanggar HAM," sambungnya.

Sebelumnya diberitakan, berdasarkan laporan Amnesty Internasional, sekitar satu juta penduduk Uighur mendapatkan persekusi ketika dimasukkan ke "kamp pendidikan ulang".

Keluarga Uighur memegang foto sanak famili mereka yang ditahan di kamp pendidikan ulang di Xinjiang
Kantor berita Amerika Serikat, Associated Press (AP) berhasil mendapatkan pengakuan Omir Bekali, seorang pria Kazakhstan yang pernahh ditahan di penjara itu selama delapan bulan tahun lalu. Selama disana dia mengaku mendapatkan penyiksaan, didoktrin komunis, dan dipaksa tidak menjalankan ajaran agamanya. Siksaan psikis adalah yang paling berat, dia harus menyatakan sumpah setia kepada Partai Komunis China dan menghina agama dan sukunya sendiri.

Pemerintah Indonesia melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa saat ini Pemerintah belum memiliki sikap resmi atas berita kekerasan yang menimpa kelompok Muslim Uighur. Menurutnya Pemerintah harus hati-hati dalam menentukan sikap terkait isu Uighur.

"Kita belum ada statment resmi, tentang apa yang terjadi di Xinjiang. Karena pihak Cina menjelaskan orang Uighur terkait dengan radikalisme," jelas Jusuf Kalla,  seperti dikutip AksiMahasiswa dari bbc, Jumat (21/12).

No comments